Suka dan Duka Manusia Patung di Kota Tua
Foto: Wahyu, Manusia Patung Jenderal Sudirman (dok: Deva Norita
Putri)
Manusia
patung merupakan satu-satunya sumber penghasilan utama yang ia miliki. Dia
harus menggunakannya untuk menghidupi keluarga serta membiayai dua dari tiga
anak-anaknya yang masih bersekolah agar memiliki masa depan yang lebih baik.
Kota Tua Jakarta merupakan salah satu tempat wisata
yang ramai dikunjungi terutama saat akhir pekan atau hari libur. Banyaknya
pengunjung di wisata Kota Tua tentunya menjadikan tempat ini sebagai lahan
pencari rezeki bagi banyak orang. Ada yang menjual pernak-pernik dan jajanan
khas Jakarta, menyewakan sepeda cantik, bahkan kita juga bisa berfoto dengan
para manusia patung yang berjejer di tiap titik kawasan wisata Kota Tua. Para
manusia patung ini memakai berbagai macam kostum dan karakter yang diperankan.
Sore itu masih lumayan terik di kawasan Kota Tua,
namun tidak mematahkan semangat para manusia patung untuk terus berpose demi
menyenangkan pengunjung agar bisa foto bersama. Di antaranya ialah Wahyu, yang
memerankan karakter Jenderal Sudirman. Meskipun keringat menetes di pelipisnya,
dia tetap semangat berpose dengan berbagai macam gaya untuk menarik perhatian
pengunjung, terkadang banyak pengunjung yang ikut tertawa melihat tingkah lucu
Wahyu saat berpose.
Dimulainya kisah Wahyu sebagai manusia patung yaitu
saat dia diajak oleh temannya untuk membentuk Komunitas Manusia Patung, dia pun
menyetujuinya dan menjadi anggota pertama dalam komunitas tersebut pada tahun
2014. Seiring berjalannya waktu jumlah anggota pun kian bertambah sehingga saat
ini sudah memiliki anggota sebanyak 7 orang. Sebelum menjadi manusia patung,
Wahyu dulunya hanya seorang pedagang kopi di wisata Kota Tua, dia berhenti
karena sudah merasa lelah serta banyaknya pedagang yang bertambah sehingga
saingan pun ikut bertambah.
Ternyata saat pertama kalinya menjadi manusia
patung, dia merasa gugup untuk tampil di depan banyak orang.“Deg-degan sih,
karena saat masih awal-awal gak biasa, saya grogi dilihat oleh banyak
pengunjung, tapi sekarang yah sudah biasa.”
Jadwal Komunitas Manusia Patungnya terbagi dalam dua
shift, Wahyu mendapat bagian di shift kedua, yaitu dari jam 16.00 hingga
21.30 WIB. Dia berjalan kaki dari rumahnya (yang tidak terlalu jauh dari
lokasi) ke basecamp komunitasnya
terlebih dahulu untuk mempersiapkan alat-alat, kostum dan segala atribut,
setelah itu barulah ke kawasan wisata Kota Tua lalu mulai melukis wajahnya. Make up yang digunakannya tergolong aman
karena itu memang cat lukis khusus untuk kulit, sejauh ini Wahyu tidak pernah
mengalami efek buruk seperti gatal-gatal atau iritasi.
Penghasilan sehari-harinya relatif karena memang
tidak ada patokan harga. Wahyu menerima berapa pun besar uang yang diberi oleh
pengunjung dengan ikhlas, “kita gak pake patokan harga, jadi ya seikhlasnya
aja."
Keuntungan dari penghasilannya pun masih harus dibagi
dua, separuh untuk komunitas, separuhnya lagi untuk diri sendiri. Terkadang
jika sedang musim hujan, penghasilannya menurun karena para pengunjung tidak
bisa berfoto dan memilih untuk berteduh. Meskipun demikian, Wahyu sangat
menikmati pekerjaannya saat ini, dia bekerja mencari nafkah dengan penuh
semangat dan tawa bersama para pengunjung.
oleh Deva Norita Putri Kartadilaga
(tulisan ini sudah pernah dimuat di https://www.wartalika.id/news/jelajah/2019/06/19/suka-dan-duka-manusia-patung-di-kota-tua/)

Waah baguss infromasinya..
ReplyDeleteTerima kasih ya! Kalian selalu menghibur kami. Semangat selalu...
ReplyDeleteSemangat manusia-manusia patung yang kuat!!!
ReplyDeleteKeren bet si perjuangannya
ReplyDeleteSalut sama pengorbanan nya!
ReplyDelete