[Cerpen] Tujuan Hidup
Tujuan
Hidup
Oleh: Deva Norita
Putri Kartadilaga
Semester
baru sudah dimulai. Kampus Universitas Pelita Bumi mulai dipenuhi oleh para
mahasiswa-mahasiswi yang telah menghabiskan liburan mereka hingga kemarin.
Beberapa di antaranya memakai baju hitam putih yang menandakan bahwa mereka
adalah mahasiswa baru. Para mahasiswa baru itu mengalungkan nametag di lehernya masing-masing.
Hampir semua laki-lakinya memiliki kepala yang nyaris botak, karena itu memang
aturan untuk mahasiswa baru agar memangkas rambut mereka sehingga tidak
melebihi 3 cm.
Aqilla
mengamati pemandangan itu dengan senyum geli. Dia jadi teringat masa-masa saat
ia menjadi mahasiswa baru, yaitu dua tahun lalu. Aqilla adalah salah satu
mahasiswi jurusan Akuntansi di Universitas Pelita Bumi. Saat ini ia sudah
memasuki semester kelima. Waktu tak terasa telah berlalu hingga dia sadar bahwa
ia sudah menghabiskan waktu untuk kuliah di kampus ini selama dua tahun.
"Kenapa
sih, La? Senyum-senyum sendiri," tanya Kara, gadis yang berjalan disamping
Aqilla. Saat ini mereka sedang menuju kantin untuk makan siang.
Aqilla
menoleh padanya, semakin memperlebar cengirannya. "Eh? Enggak, hehe. Itu lho, aku ngerasa lucu aja lihat
cowok-cowok maba, kepalanya botak-botak gitu."
Kara pun
ikut memandang maba-maba yang berlalu-lalang di koridor kampus itu. "Coba
cari yang ganteng, La. Siapa tahu ada yang nyangkut," katanya sambil
tertawa.
"Cowok
ganteng melulu yang kamu pikirin, Kar." Aqilla menanggapi sambil memutar
bola matanya.
Sesampainya
di kantin, mereka langsung menempati salah satu meja yang ada di sana.
"Aku
mau pesan mie ayam sama es jeruk, nih. Kamu mau apa? Biar sekalian aku pesenin
juga," tawar Kara.
"Eummm..."
gumam Aqilla seraya berpikir. "Sama kayak kamu aja deh," jawabnya.
"Oke."
Kara pun pergi untuk memesan makanan mereka.
Sembari
menunggu Kara, Aqilla melihat-lihat sekeliling kantin yang lumayan ramai itu. Saat
ini memang jam makan siang, wajar saja banyak yang datang untuk mengisi perut
mereka. Aqilla sendiri memang sudah lapar sejak kelas Perpajakan tadi
berlangsung, kelelahan menghitung membuat perutnya jadi keroncongan.
Kara
kembali dari memesan makanan dan duduk di depannya. "Udah kupesan ya,
nanti makanannya diantar ke sini." Aqilla mengangguk.
Tiba-tiba
terdengar suara seseorang memanggil Kara. Kara menoleh ke sumber suara.
"Eh, Kak Zidan!" Aqilla pun ikut menoleh ke arah sumber suara.
Seorang
laki-laki berjalan menghampiri tempat duduk mereka. Di tangannya terdapat
semangkuk bakso dan segelas es teh manis. Lelaki itu menyengir ke arah Kara.
"Kar, saya boleh gabung duduk di sini ga? Saya ga dapet tempat duduk, yang
lainnya penuh."
Kara
melihat sekeliling kantin dan menyadari bahwa memang tak ada lagi tempat yang
tersisa. "Oh, iya gapapa, Kak. Duduk aja. Gapapa kan La?" tanyanya
pada Aqilla.
Aqilla
mengangguk. "Iya, gapapa." Sebenarnya dia merasa canggung, namun mau
bagaimana lagi? Memang sudah tak ada lagi tempat duduk yang tersisa.
Kara pun
menggeser posisi duduknya lalu lelaki itu duduk di sebelahnya dan berseberangan
dengan Aqilla.
"La,
kenalin ini Kak Zidan. Kak Zidan, ini temanku, namanya Aqilla."
Zidan
mengulurkan tangannya pada Aqilla. Gadis itu menyambut uluran tangannya sambil
tersenyum dan mengangguk sopan.
"Kalian
teman sejurusan?" tanya lelaki itu.
"Iya,
Kak. Sekelas juga," jawab Aqilla.
"Ohh..."
Zidan mengangguk-angguk.
"Kak
Zidan ini seniorku di UKM Fotografi, dia anak jurusan Teknik Informatika,"
jelas Kara pada Aqilla.
"Yap,
betul. Eh, ini saya makan duluan gapapa ya?" tanya Zidan sambil menunjuk
baksonya.
"Iya,
gapapa Kak. Santai aja, udah lapar banget ya?" ujar Kara sambil tertawa.
Zidan
hanya terkekeh sebelum mengangkat sendok dan garpunya kemudian mulai menikmati
makanannya.
"Omong-omong,
Kak Zidan baru balik dari cuti kuliah, kan? Gimana rasanya habis cuti?"
tanya Kara tiba-tiba. Aqilla mengangkat alisnya, menatap Zidan dengan
penasaran. "Kak Zidan habis cuti?" tanyanya.
Zidan menelan
kunyahan baksonya sebelum menjawab, "yah... intinya banyak yang saya
pelajari, Kar." Dia menoleh ke Aqilla. "Iya, saya baru aja kuliah
lagi setelah cuti selama satu semester buat kerja."
Aqilla
semakin penasaran. "Kenapa ga diselesain dulu aja kuliahnya? Kerja kan
bisa setelah lulus."
"Orang
tua saya kesulitan menanggung biaya kuliah, ditambah lagi saya punya banyak
adik yang masih sekolah. Jadi, saya mau kerja dulu ngumpulin uang buat lanjut
kuliah lagi."
"Kak
Zidan ga coba program beasiswa? Atau kerja paruh waktu gitu?" tanya Kara
kali ini.
"Saya
udah coba daftar semua program beasiswa, Kar. Tapi ga ada yang lolos seleksi,
mungkin emang bukan rezekinya. Kalau untuk kerja paruh waktu, saya ga akan
bisa, jurusan saya itu jadwal kuliahnya padat, tugasnya pun berjibun, kalau
saya paksain untuk kerja paruh waktu yang ada saya malah kelimpungan,"
jawab lelaki itu lalu melahap baksonya kembali.
Aqilla
termenung. Walaupun dia berasal dari keluarga yang masih cukup mampu, dia tahu
bahwa biaya kuliah tidaklah murah. "Iya sih... tapi sayang juga. Kalau
cuti kan kita harus ngulang mata kuliah yang tertunda, sedangkan kebanyakan
orang kepingin cepat lulus. Belum lagi kalau lupa sama materi-materi yang udah
dipelajari."
Zidan
tersenyum mendengarnya. "Cuti bukan berarti saya berhenti belajar, La.
Justru ketika cuti, saya punya lebih banyak waktu untuk membaca banyak buku dan
mendalami bidang kuliah saya ini. Kebetulan pekerjaan saya juga berhubungan
dengan jurusan. Cuma sebagai IT Staff sih...
yang gajinya ga seberapa besar, tapi setelah ditabung cukup lah untuk ngebiayai
kuliah saya yang tinggal setahun lagi."
Aqilla
manggut-manggut. Kemudian bertanya lagi, "tapi, apa Kak Zidan ga ngerasa
rugi waktu dan usia? Lingkungan sekitar mulai dari tetangga, kerabat, dan
keluarga akan bertanya-tanya tentang kelulusan Kakak. Orang-orang tidak acuh
dengan alasan dan seberapa sulit situasi yang Kakak hadapi, yang mereka tahu
cuma satu hal, Kakak telat lulus."
"Nah,
betul tuh," timpal Kara, lalu memandang Zidan sungguh-sungguh, penasaran
dengan jawaban yang akan diberikan lelaki itu.
Zidan
menarik napas perlahan dan menghembuskannya. "Kalau itu, tergantung
bagaimana kita memaknai kehidupan aja, sih. Orang-orang berpikir hidup ini
untuk mengejar kesuksesan. Selama ini ukuran kesuksesan bagi mereka selalu
identik dengan hidup berlimpah, punya profesi yang bergengsi, mengejar gelar
setinggi-tingginya, termasuk lulus kuliah tepat waktu atau bahkan lebih cepat.
Memang ga ada salahnya sih, sebelumnya saya juga berpikir begitu."
Lelaki
itu berhenti sebentar untuk meminum es teh manisnya. Aqilla dan Kara menyimak,
menunggu kelanjutan penuturan lelaki itu.
"Selama
cuti satu semester kemarin, saya ga cuma kerja aja. Kalau lagi libur kerja,
saya membantu teman-teman menyelenggarakan perpustakaan keliling untuk meningkatkan
hobi membaca di kalangan masyarakat, bersilaturahmi dengan teman-teman lama,
berinteraksi dengan orang-orang baru dan bertukar pikiran tentang segala macam
hal. Sesuatu yang belum tentu bisa dilakukan oleh mahasiswa yang sibuk oleh
banyaknya tugas kuliah."
"Wih,
seru juga," sela Kara antusias.
"Pastinya,"
ujar Zidan sambil terkekeh, kemudian melanjutkan penuturannya lagi.
"Setelah ngejalanin itu semua, saya sadar, selama ini saya ga pernah
mikirin caranya berguna buat lingkungan sekitar. Saya lupa bahwa sebaik-baiknya
manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Itulah makna kehidupan
yang sebenarnya, apalagi bagi mahasiswa kayak kita. Karena, selama ini
kebanyakan dari kita memandang kampus dan perkuliahan sebagai sesuatu yang terlampau
eksklusif, cuma memikirkan nilai IPK dan gimana caranya biar cepat-cepat
lulus."
Aqilla
dan Kara saling melempar pandang, merasa tertampar oleh penuturan itu. Aqilla
termenung. Ya, selama ini dirinya hanya fokus agar kuliah dengan benar,
mendapat nilai IPK yang baik, dan lulus tepat waktu. Dia tidak pernah
benar-benar berpikir untuk menjadikan dirinya bermanfaat bagi orang lain. Kalau
diingat-ingat lagi, selama dua tahun menjadi mahasiswa, sudah seberapa manfaatkah
dia bagi orang lain?
Zidan
kembali melanjutkan. "Seandainya saya ga pernah menjalani itu semua.
Mungkin setelah saya lulus kuliah dan meninggalkan dunia kampus, saya akan jadi
salah satu orang-orang yang tak mengenal lingkungan, cuma plonga-plongo di
masyarakat. Kalau sudah begitu, apa gunanya ilmu yang saya pelajari di bangku
kuliah?"
Aqilla
dan Kara dibuat tercengang oleh ucapan Zidan. "Iya... betul juga,"
gumam Aqilla pelan.
Tiba-tiba
seorang ibu-ibu menghampiri meja mereka untuk mengantarkan pesanan mie ayam dan
es jeruk mereka. Aqilla dan Kara mengucapkan terima kasih. Tak ada pembicaraan
lagi setelah itu, mereka bertiga lanjut memakan makanannya masing-masing.
Beberapa
menit kemudian, Zidan yang sudah menyelesaikan makannya terlebih dahulu angkat
bicara. "Eh, tapi bukannya saya menghasut kalian untuk cuti kuliah juga
ya."
Aqilla
dan Kara tertawa melihat tampang serius Zidan saat mengatakannya. "Nggak
lah, Kak," ujar Aqilla.
Zidan
mengangguk. "Bagaimanapun, lebih baik lulus tepat waktu. Karena—saya
akui—membangun motivasi untuk kembali kuliah lagi setelah cuti selama
berbulan-bulan cukup sulit."
"Siappp,
Kak!" seru Kara sambil memperagakan pose hormat ala tentara.
Zidan
tertawa. "Kalau gitu saya pamit dulu ya, Kara, Aqilla. Lima belas menit
lagi saya ada kelas," ujarnya sambil menganggukkan kepalanya terhadap dua
gadis itu.
"Iya,
Kak. Hati-hati!" kata Aqilla. Zidan pun pergi setelah berpamitan pada
kedua gadis itu.
Aqilla
dan Kara kembali menyelesaikan makan mereka. "Gimana, La?" tanya Kara
tiba-tiba.
Aqilla
mengeryitkan keningnya. "Gimana apanya?"
Kara
terkekeh. "Gimana menurut kamu setelah dengar cerita Kak Zidan tadi?"
"Menurutku..."
Aqilla berhenti lalu berpikir sejenak. "Perkataannya tadi betul-betul
membuka pikiranku. Selama ini aku cuma mikirin gimana caranya aku bisa lulus
kuliah tepat waktu dan jadi orang sukses, sampai lupa bahwa tujuan hidup dan belajar
adalah supaya kita bisa jadi orang yang berguna bagi yang lainnya."
Kara
menganggukkan kepalanya, setuju dengan pendapat Aqilla. Setelah mereka
menghabiskan makanannya, mereka kembali ke kelas untuk mempersiapkan mata
kuliah berikutnya. Sisa hari itu, Aqilla merenungkan bermacam cara agar dirinya
menjadi orang yang lebih bermanfaat, mungkin bisa dimulai dari hal yang kecil?
Selesai
Kerennn
ReplyDelete👏👏👏
ReplyDeleteKeren bbgtt
ReplyDelete