Bahaya Cyberbullying yang Masih Dianggap Remeh
Cyberbullying, yang berarti intimidasi/penindasan dunia maya, adalah segala perbuatan atau tindakan kekerasan yang dilakukan oleh individu atau sekelompok orang kepada seseorang lainnya melalui dunia maya atau internet. Cyberbullying merupakan peristiwa atau kejadian di mana seseorang diejek, dicela, dicemooh, dihina, dilecehkan, dicaci maki oleh individu atau sekelompok orang lain melalui dunia maya. Media sosial adalah media yang paling sering menjadi wadah cyberbullying.
Metode dan usaha tindakan cyberbullying bermacam-macam. Bisa berupa pesan ancaman melalui surel, mengunggah foto atau video yang mempermalukan korban, menyebar fitnah, mengolok-olok korban, komentar kebencian, dan lain-lain. Tujuan pelakunya juga bermacam-macam. Bisa karena marah dan ingin balas dendam, frustasi, ingin mencari perhatian, bahkan ada pula yang menjadikannya sekadar hiburan pengisi waktu luang.
Setiap orang memiliki kemungkinan jadi korban cyberbullying, dari orang biasa hingga tokoh publik. Cyberbullying dapat dilakukan semua orang dari berbagai jenis kalangan dan umur. Berbeda dengan intimidasi/penindasan yang terjadi di lingkungan nyata, pelaku cyberbullying tidak memerlukan kontak fisik dan kekuatan fisik. Mereka bisa bersifat anonim sehingga acap kali tak memiliki rasa takut, cemas, atau khawatir untuk teridentifikasi. Karena terjadi di dunia maya atau internet, aksi cyberbullying tidak mengenal tempat dan waktu, bisa terjadi 24 jam atau sepanjang waktu.
Tanpa disadari, cyberbullying dapat memberi banyak dampak negatif bagi korban, baik itu terhadap fisik maupun psikisnya, terutama remaja dan anak-anak yang emosinya masih terbilang labil. Korban cyberbullying akan merasa ketakutan, putus asa, kehilangan rasa percaya diri, dan yang paling parah depresi hingga bunuh diri. Mirisnya, masih banyak orang-orang yang tidak sadar dan masih menganggap remeh dampak cyberbullying.
Kasus cyberbullying yang berujung bunuh diri sudah banyak terjadi. Yang paling terkenal ialah kasus Amanda Todd, remaja asal Kanada yang meninggal bunuh diri pada tahun 2012 di usia 15 tahun. Sebulan sebelum bunuh diri, ia mengupload sebuah video di Youtube yang berisi kisah hidupnya yang menyedihkan, rupanya ia telah menerima perlakuan cyberbullying selama kurang lebih 3 tahun.
Kasus bunuh diri akibat cyberbullying yang terjadi baru-baru ini ialah Choi Jinri atau Sulli, aktris dan mantan anggota girlband f(x) Korea Selatan. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena depresi, salah satunya akibat selalu menerima komentar kebencian dari netizen.
Tanpa disadari, mungkin kita semua pernah menjadi pelaku cyberbullying. Sebagai pengguna media sosial, kita harus sadar untuk menggunakan media sosial dengan bijaksana dan menyebarkan pesan positif. Menumbuhkan rasa empati dan peduli kepada lingkungan sekitar. Jika memang tidak berniat untuk bersimpati, sebaiknya tetap diam, karena menghakimi seseorang bukanlah sebuah jawaban. Dengan begitu, kita tidak akan memperburuk suasana kalut yang tengah dirasakan si korban.
Meski begitu, jangan hanya jadi penonton. Jika hanya diam dan tidak berbuat apa-apa tentu aksi cyberbullying akan terus berlanjut dan semakin parah. Bantulah korban cyberbullying untuk mencari tahu si pelaku dan menenangkan dirinya. Beri tahu pelaku untuk menghentikan aksinya atau laporkan kasus tersebut ke pihak berwenang, kini media sosial sudah menyediakan fitur “Report Abuse”.
Menurut Fitria Lazzarini Latief, M. Psi, seorang psikolog dari Yayasan Pulih, dalam artikel di situs id.theasianparent.com ia menyebutkan saran yang bisa dilakukan jika menemukan korban cyberbullying:
1. Berikan dukungan
Sekalipun korban melakukan kesalahan, kita harus sepenuhnya sadar bahwa semua orang bisa melakukan kesalahan yang sama. Jadilah temannya, dengarkan ceritanya, tanyalah apa yang ia butuhkan, dan hubungkan ia dengan lembaga pendampingan yang sesuai kebutuhannya.
2. Ingatkan korban untuk ‘istirahat’
Salah satu caranya adalah dengan meminta si korban agar berhenti membuka media sosial untuk sementara waktu. Minta ia untuk fokus menenangkan diri sendiri dahulu.
Sebaiknya korban bisa segera menghubungi psikolog, terapis, maupun psikiater profesional. Yang terpenting ialah kita harus mengutamakan kesehatan mental korban. Setiap orang dapat menjadi korban cyberbullying. Korban maupun pelakunya bisa saja dekat dengan kehidupan atau lingkungan kita. Mulai saat ini, marilah kita bersikap bijaksana dan memperhatikan etika dalam bermedia sosial, serta selalu melakukan hal-hal positif sehingga terhindar dari perilaku cyberbullying!
Metode dan usaha tindakan cyberbullying bermacam-macam. Bisa berupa pesan ancaman melalui surel, mengunggah foto atau video yang mempermalukan korban, menyebar fitnah, mengolok-olok korban, komentar kebencian, dan lain-lain. Tujuan pelakunya juga bermacam-macam. Bisa karena marah dan ingin balas dendam, frustasi, ingin mencari perhatian, bahkan ada pula yang menjadikannya sekadar hiburan pengisi waktu luang.
Setiap orang memiliki kemungkinan jadi korban cyberbullying, dari orang biasa hingga tokoh publik. Cyberbullying dapat dilakukan semua orang dari berbagai jenis kalangan dan umur. Berbeda dengan intimidasi/penindasan yang terjadi di lingkungan nyata, pelaku cyberbullying tidak memerlukan kontak fisik dan kekuatan fisik. Mereka bisa bersifat anonim sehingga acap kali tak memiliki rasa takut, cemas, atau khawatir untuk teridentifikasi. Karena terjadi di dunia maya atau internet, aksi cyberbullying tidak mengenal tempat dan waktu, bisa terjadi 24 jam atau sepanjang waktu.
Tanpa disadari, cyberbullying dapat memberi banyak dampak negatif bagi korban, baik itu terhadap fisik maupun psikisnya, terutama remaja dan anak-anak yang emosinya masih terbilang labil. Korban cyberbullying akan merasa ketakutan, putus asa, kehilangan rasa percaya diri, dan yang paling parah depresi hingga bunuh diri. Mirisnya, masih banyak orang-orang yang tidak sadar dan masih menganggap remeh dampak cyberbullying.
Kasus cyberbullying yang berujung bunuh diri sudah banyak terjadi. Yang paling terkenal ialah kasus Amanda Todd, remaja asal Kanada yang meninggal bunuh diri pada tahun 2012 di usia 15 tahun. Sebulan sebelum bunuh diri, ia mengupload sebuah video di Youtube yang berisi kisah hidupnya yang menyedihkan, rupanya ia telah menerima perlakuan cyberbullying selama kurang lebih 3 tahun.
Kasus bunuh diri akibat cyberbullying yang terjadi baru-baru ini ialah Choi Jinri atau Sulli, aktris dan mantan anggota girlband f(x) Korea Selatan. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena depresi, salah satunya akibat selalu menerima komentar kebencian dari netizen.
Tanpa disadari, mungkin kita semua pernah menjadi pelaku cyberbullying. Sebagai pengguna media sosial, kita harus sadar untuk menggunakan media sosial dengan bijaksana dan menyebarkan pesan positif. Menumbuhkan rasa empati dan peduli kepada lingkungan sekitar. Jika memang tidak berniat untuk bersimpati, sebaiknya tetap diam, karena menghakimi seseorang bukanlah sebuah jawaban. Dengan begitu, kita tidak akan memperburuk suasana kalut yang tengah dirasakan si korban.
Meski begitu, jangan hanya jadi penonton. Jika hanya diam dan tidak berbuat apa-apa tentu aksi cyberbullying akan terus berlanjut dan semakin parah. Bantulah korban cyberbullying untuk mencari tahu si pelaku dan menenangkan dirinya. Beri tahu pelaku untuk menghentikan aksinya atau laporkan kasus tersebut ke pihak berwenang, kini media sosial sudah menyediakan fitur “Report Abuse”.
Menurut Fitria Lazzarini Latief, M. Psi, seorang psikolog dari Yayasan Pulih, dalam artikel di situs id.theasianparent.com ia menyebutkan saran yang bisa dilakukan jika menemukan korban cyberbullying:
1. Berikan dukungan
Sekalipun korban melakukan kesalahan, kita harus sepenuhnya sadar bahwa semua orang bisa melakukan kesalahan yang sama. Jadilah temannya, dengarkan ceritanya, tanyalah apa yang ia butuhkan, dan hubungkan ia dengan lembaga pendampingan yang sesuai kebutuhannya.
2. Ingatkan korban untuk ‘istirahat’
Salah satu caranya adalah dengan meminta si korban agar berhenti membuka media sosial untuk sementara waktu. Minta ia untuk fokus menenangkan diri sendiri dahulu.
Sebaiknya korban bisa segera menghubungi psikolog, terapis, maupun psikiater profesional. Yang terpenting ialah kita harus mengutamakan kesehatan mental korban. Setiap orang dapat menjadi korban cyberbullying. Korban maupun pelakunya bisa saja dekat dengan kehidupan atau lingkungan kita. Mulai saat ini, marilah kita bersikap bijaksana dan memperhatikan etika dalam bermedia sosial, serta selalu melakukan hal-hal positif sehingga terhindar dari perilaku cyberbullying!
freedom of speech doesn't justify online bullying. Nice kak!
ReplyDeleteSemoga tidak ada lagi korban korban cyberbullying yah!
ReplyDeleteBener, cyberbullying emg mematikan dan gaboleh dianggap remeh. Berpendapat memang hak setiap orang, tp kl sampe menyakiti dan menghakimi org lain, itu gak dibenarkan.
ReplyDeleteSemoga tidak ada lg korban cyberbullying lagi....
ReplyDeleteJika ingin mengkritik atau berpendapat, gunakanlah kata2 yang bijak dan dapat membangun seseorang .. jangan justru menilai seseorang dengan cacian yang tak berujung solusi pada akhirnya. Karena mental setiap orang berbeda2.
ReplyDeleteSemoga tidak ada lagi korban dan bisa saling menyadarkan untuk lebih bijak dalam bertindak maupun berucap
ReplyDeleteAduh patut jadi sorotan nih.
ReplyDeletesetuju kak! artikelnya bagus bangett
ReplyDeleteBermanfaat sekali. Harus diterapkan sih buat peduli satu sama lain.
ReplyDeleteSetelah membaca ini semoga bs menyadarkan para manusia untuk tidak melakukan cyberbullying lg, mengurangi intensitas dalam berkomen yang tidak baik
ReplyDeleteMari sama sama kita saling peduli satu sama lain, semoga kita semua semakin sadar bahaya dari bullying.
ReplyDeleteArtikelnya bagus, izin share ka
ReplyDeleteMental illnesses is not a joke. Masih banyak bgt yang ngelakuin hal itu (cyberbullying) tp gasadar kalo dia lagi ngelakuin cyberbullying. Harus ada edukasi yang semacem ini sih sebenernya. Good article
ReplyDeleteArtikelnya bermanfaat banget. Ayo sama-sama stop cyberbullying mulai dari diri sendiri.
ReplyDeleteMakasih kak atas infonya! Jadi lebih ngerti gimana cara menghadapi korban cyber bullying
ReplyDeleteAku setujuuuuuuuuuu, mungkin sekedar tambahan, kita juga bisa menjadi pendengar yg baik bagi korban dan tidak men judge atas yg dialami korban๐ค๐ค๐ค๐ค
ReplyDeleteBernanfaat sekali artikel ini. kita jadi tahu bagaimana cara menghadapi korban cyberbullying. semoga makin banyak orang yang sadar akan bahayanya cyberbullying.
ReplyDeleteSetujuu bgt sm artikel ini semoga semakin bermanfaat blog nya
ReplyDeleteTerimakasih atas informasinya yg bermanfaat
ReplyDeleteArtikelnya bagus ๐, kita jadi tau apa yang harus dilakukan untuk membantu korban.
ReplyDeleteBanyak juga ya yang jadi korban cyberbullying.
ReplyDeleteTerima kasih infonya yaa... Semoga pada sadar pelaku cyberbullying :)
ReplyDeleteItulah pentingnya buat netizen buat jaga lisan dan pikiran, supaya gak terjadi hal2 yg gk diinginkan spt korbannya bunuh diri dsb.
ReplyDeleteGatau knp, tp rasanya pengen gamparin satu2 org yg suka ngebully di sosmed
Terima kasih,sgt bermanfaat,semoga tidak terjadi cyberbullying lagi
ReplyDeleteAyo kita hentikan bullying
ReplyDelete