Hidup Mandiri dengan Kuliah Sambil Bekerja
Kuliah sambil bekerja bukanlah hal yang mudah
dilakukan. Salah satu kondisi yang membuat para mahasiswa merelakan sebagian
waktu belajarnya dengan bekerja ialah untuk mencari tambahan uang.
Seperti halnya yang dilakukan oleh Krisda Tiofani, mahasiswi Jurnalistik
dari Politeknik Negeri Jakarta.
Fani, begitu panggilannya, saat ini sedang menempuh
semester ke-5. Dia sudah bekerja selama setahun lebih sebagai guru bimbel di
salah satu tempat bimbel yang berlokasi di BSD City, Serpong. Tempat bimbelnya
tersebut mengajar anak-anak SD yang semuanya berasal dari International School.
Mahasiswi penerima Bidik Misi itu tidak hanya mengandalkan beasiswanya untuk memenuhi segala keperluan kuliah dan sebagainya, dia rela mencari penghasilan lain agar tidak perlu meminta uang tambahan lagi pada orang tua.
Setiap hari Senin sampai Jumat ia bekerja mulai dari
pukul 16.30 – 18.00, bahkan terkadang bisa sampai jam delapan malam. Perempuan
yang tinggal di daerah Gunung Sindur, Tangerang Selatan itu jarang memiliki
waktu senggang.
Pada saat-saat tertentu (seperti mata kuliah
tambahan), dia terpaksa harus tinggal di kampus sampai sore sehingga dari Depok,
dengan menggunakan kendaraan sepeda motor, dia langsung menuju tempat kerjanya tanpa
sempat beristirahat dulu di rumah.
Menambah
Pengetahuan
Meskipun pekerjaannya tidak sesuai dengan jurusan
kuliahnya, Fani tetap menikmatinya. Karena selain mencari tambahan uang, ia
bisa mendapat manfaat lain dari kuliah sambil bekerja. “Bisa menambah-nambah
pengalaman, kenalan, dan pengetahuan. Terus saya juga bisa meningkatkan
kemampuan bahasa Inggris, karena murid-murid saya kan dari International School semua, tuh. Jadi, ya lumayan kan untuk
melancarkan kemampuan bahasa Inggris,” katanya.
Fani mengaku kesulitan mengatur waktu antara bekerja
dan kuliah, terkadang jam tidurnya pun ikut berkurang, namun dia berusaha
mengurangi kegiatan yang tidak begitu penting. “Bikin list prioritas sangat membantu, sih,” ujarnya berpendapat.
Selain kesulitan mengatur waktu, saat awal-awal Fani
berkata bahwa dia kesulitan untuk beradaptasi dengan pekerjaannya, “sulit
menghadapi anak-anak yang rempong
beserta ibu-ibunya.” Akan tetapi, hal itu tidak membuatnya gentar, ia tetap
menikmati pekerjaannya.
Agar nilai-nilai akademis tidak terganggu dengan
pekerjaan, Fani menganjurkan untuk pintar-pintar membagi waktu. Dan yang terpenting, menjaga pola makan agar
tetap sehat.
Dia pun berpesan kepada seluruh mahasiswa untuk
melakukan segala hal dengan semangat dan sepenuh hati. Percayalah bahwa
kehidupan setiap orang, khususnya dunia kuliah, memang berbeda-beda. Mungkin
terkadang kita melihat orang-orang tampak mudah saja dengan kehidupan kuliahnya,
tapi belum tentu. Setiap orang pasti punya pergumulan hidupnya masing-masing.
“Walaupun agak berat nih ya, khususnya buat yang
kuliah sambil mencari uang, ya sudah jalanin aja. Selama menurut kalian benar,
uangnya halal, serta tidak merugikan orang lain. Tapi jangan lupa, prioritas
nomor satu tetap kuliah. Kan nanti kalau sudah lulus kuliah, bisa cari
pekerjaan yang lebih baik dengan (mudah-mudahan) gaji setinggi langit, aamiin,”
tambahnya sambil tertawa.
Meski menghadapi banyak rintangan dan kesulitan, Fani tidak pernah menyerah. Dia tetap semangat menjalani kehidupannya. Sebagai mahasiswa, dia pun tidak lupa untuk memenuhi kewajibannya mengerjakan tugas-tugas kuliah.
Eh namanya sama ya, waah😍
ReplyDeleteKarena ini memang tulisan tentang Anda :)
Delete